FILOSOFI MATEMATIKA MODEL


FILOSOFI MATEMATIKA MODEL

A.    Intensif
Menurut kamus Oxford dalam Umayah (2014), filsafat adalah kumpulan sistem dan keyakinan yang mengkaji sifat dasat dari alam semesta dan kehidupan manusia. Kata filsafat berasal dari kata ‘philosophia’ (bahasa Yunani), diartikan dengan ‘mencintai kebijaksanaan’. Sedangkan dalam bahassa Inggris kata filsafat disebut dengan istilah ‘philosophy’, dan dalam bahasa Arab disebut dengan istilah ‘falsafah’, yang biasa diterjemahkan dengan ‘cinta kearifan’. Sumber dari filsafat adalah manusia, dalam hal ini akal dan kalbu manusia yang sehat yang berusaha keras dengan sungguh-sungguh untuk mencari kebenaran dan akhirnya memperoleh kebenaran.
Filsafat merupakan gambaran menyeluruh atau sinopsis tentang realitas manusia dan ini berarti mencakup segenap aspek dan ekspresi manusia, dan lepas dari kontekstualitas ruang dan waktu (universal). Karena filsafat manusia bersifat sinopsis dan universal, yang mana mencakup segenap aspek dan dimensi yang terdapat dalam realitas manusia, maka tidak mungkin bisa mendeskripsikan semuanya itu secara rinci dan detail sehingga filsafat manusia hanya menggambarkan realitas manusia secara garis besar saja.
Ciri lain dari filsafat manusia menurut Umayah (2014) adalah penjelasannya yang intensif (mendasar), yang mana filsafat adalah kegiatan intelektual yang hendak menggali inti, hakikat (esensi), akar, atau struktur dasar, yang mendasari dan melandasi setiap kenyataan. Intensif yaitu dalam dan tinggi sesuai dengan kedalaman dan ketinggian dimensi filsafat. Dapat dikatakan filsafat manusia hendak mencari inti, hakikat, akar, atau struktur dasar, yang melandasi kenyataan manusia, baik yang tampak pada gejala sehari-hari (prailmiah), maupun yang terdapat di dalam data-data dan teori-teori ilmiah. Ciri-ciri filsafat yaitu filsafat sebagai ilmu, filsafat sebagai cara berfikir dan filsafat sebagai pandangan hidup. Manfaat dari mempelajari ilmu filsafat ini ada tiga, yaitu filsafat telah mengajarkan kita untuk lebih mengenal diri secara totalitas, filsafat mengajarkan tentang hakikat alam semesta, tentang hakikat Tuhan.

B.     Ekstensif
a.      Filosofis Umum
Kattsoff (1989: 95) dalam Sumaryanto (2012) menyatakan bahwa persoalan-persoalan Filsafat di samping mempunyai ciri-ciri, juga dapat digolongkan menurut jenis-jenisnya. Keluasan ruang lingkup kajian Filsafat dapat dibagi atau disistematisasi menjadi tiga cabang utama, yaitu metafisika, epistemologi, dan aksiologi. Metafisika adalah cabang Filsafat yang berusaha menangkap kenyataan terdalam dari segala sesuatu yang ada; epistemologi adalah cabang Filsafat yang berusaha menelaah sumber, watak, dan kebenaran pengetahuan dan aksiologi adalah cabang Filsafat yang berusaha menelaah tentang hakikat nilai.
Ontologi menurut Komar (tanpa tahun) membahas secara umum obyek telaahan ilmu, ciri-ciri esensial obyek ilmu, asumsi dasar ilmu dan konsekuensinya pada penerapan ilmu, khususnya proses konsistensi ekstensif dan intensif dalam pengembangan ilmu. Ontologi ilmu membahas tentang apa yang ingin diketahui atau dengan kata lain merupakan pengkajian mengenai teori tentang ada. Dasar ontology dari ilmu berhubungan dengan materi yang menjadi obyek penelaahan ilmu, ciri-ciri esensial obyek itu yang berlaku umum. Ontologi berperan dalam perbincangan mengenai pengembangan ilmu, asumsi dasar ilmu dan konsekuensinya pada penerapan ilmu. Ontologi merupakan sarana ilmiah untuk menemukan jalan penanganan masalah secara ilmiah. Dalam hal ini ontology berperan dalam proses konsistensi ekstensif dan intensif dalam pengembangan ilmu. (Pramono, 2005: 138) dalam Sumaryanto (2012).
Epistemologi membahas proses usaha memperoleh ilmu, terutama berkaitan dengan metode keilmuan dan sistematika isi ilmu. Sistimatisasi isi ilmu mencakup batang tubuh ilmu, peta dasar perkembangannya, mulai ilmu pokok sampai kecabangnya. Epistemologi ilmu membahas secara mendalam segenap proses yang terlibat dalam usaha untuk memperoleh pengetahuan. Metode keilmuan merupakan suatu prosedur yang mencakup berbagai tindakan pikiran, pola kerja, cara teknis, dan tata langkah untuk memperoleh pengetahuan baru atau mengembangkan yang telah ada.
Epistemologi juga bisa menentukan cara dan arah berpikir manusia. Seseorang yang senantiasa condong menjelaskan sesuatu dengan bertolak dari teori yang bersifat umum menuju detail-detailnya, berarti dia menggunakan pendekatan deduktif. Sebaliknya, ada yang cenderung bertolak dari gejala-gejala yang sama, baruk ditarik kesimpulan secara umum, berarti dia menggunakan pendekatan induktif. Adakalanya seseorang selalu mengarahkan pemikirannya ke masa depan yang masih jauh, ada yang hanya berpikir berdasarkan pertimbangan jangka pendek sekarang dan ada pula seseorang yang berpikir dengan kencenderungan melihat ke belakang, yaitu masa lampau yang telah dilalui. Pola-pola berpikir ini akan berimplikasi terhadap corak sikap seseorang.
Dalam pemodelan matematik bahwa masalah nyata yang sering dihadapi dalam kehidupan sehari-hari perlu disusun dalam suatu model matematik sehingga, mudah dicari solusinya. Proses pembentukan model matematika melalui tahap abstraksi dan idealisasi. Dalam proses ini diterapkan prinsip-prinsip matematika yang relevan sehingga menghasilkan sebuah model matematika yang diharapkan. Beberapa hal penting dan perlu agar model yang dibuat sesuai dengan konsep masalah antara lain, masalah itu harus dipahami karakteristiknya dengan baik, disusun formulasi modelnya, model itu divalidasi secara cermat, solusi model yang diperoleh diinterpretasikan dan kemudian diuji kebenarannya. Metodologi dasar dalam proses penentuan model matematika atau sering disebut pemodelan matematika, ada beberapa tahap yaitu:
a)      tahap masalah,
b)      karakterisasi masalah,
c)      formulasi model matematika,
d)      analisis,
e)      validasi,
f)       perubahan dan
g)      model yang memadai
Pemodelan matematika merupakan proses dalam memperoleh pemahaman matematika melalui konteks dunia nyata. Menurut Lovitt (1991) dalam Senk dan Thompson (2003). pemodelan matematika ditandai oleh dua ciri utama, yaitu (1) pemodelan bermula dan berakhir dengan dunia nyata, (2) pemodelan membentuk suatu siklus. Pemodelan matematika adalah penyusunan suatu deskripsi dari beberapa perilaku dunia nyata (fenomena-fenomena alam) ke dalam bagian-bagian matematika yang disebut dunia matematika (mathematical world). Pemodelan matematika menurut Dym and Ivey (1980) merupakan representasi dari objek, proses, atau hal lain yang diharapkan dapat diketahui polanya sehingga dapat dianalisis.

b.      Filosofis Matematika
Menurut Bold, T. (2004) interpretasi konsep matematika adalah kemampuan manusia dari abstrak, yaitu kemampuan pikiran untuk mengetahui sifat abstrak dari dari obyek dan menggunakannya tanpa kehadiran obyek. Kenyataan bahwa semua matematika adalah abstrak, ia percaya bahwa salah satu motif dari intuitionists untuk berpikir matematika adalah produk satu-satunya pikiran. Dia menambahkan bahwa elemen penting selanjutnya adalah konsep infinity, sedangkan konsep tak terbatas didasarkan pada konsep kemungkinan. Dengan demikian, konsep tak terbatas bukan kuantitas, tetapi konsep yang bertumpu pada kemungkinan tak terbatas, yang merupakan karakter dari kemungkinan.
1.      Sejarah Kalkulus
Sejarah perkembangan kalkulus terbagi menjadi beberapa periode zaman, yaitu zaman kuno, zaman pertengahan, dan zaman modern. Pada periode zaman kuno, beberapa pemikiran tentang kalkulus integral telah muncul, tetapi tidak dikembangkan dengan baik dan sistematis. Perhitungan volume dan luas yang merupakan fungsi utama dari kalkulus integral bisa ditelusuri kembali pada Papirus Moskow Mesir (1800 SM) di mana orang Mesir menghitung volume dari frustrum piramid. Archimedes mengembangkan pemikiran ini lebih jauh dan menciptakan heuristik yang menyerupai kalkulus integral.
Pada zaman pertengahan, matematikawan India, Aryabhata, menggunakan konsep kecil takterhingga pada tahun 499 dan mengekspresikan masalah astronomi dalam bentuk persamaan diferensial dasar. Persamaan ini kemudian mengantar Bhāskara II pada abad ke-12 untuk mengembangkan bentuk awal turunan yang mewakili perubahan yang sangat kecil takterhingga dan menjelaskan bentuk awal dari "Teorema Rolle". Sekitar tahun 1000, matematikawan Irak Ibn al-Haytham (Alhazen) menjadi orang pertama yang menurunkan rumus perhitungan hasil jumlah pangkat empat, dan dengan menggunakan induksi matematika, dia mengembangkan suatu metode untuk menurunkan rumus umum dari hasil pangkat integral yang sangat penting terhadap perkembangan kalkulus integral. Pada abad ke-12, seorang Persia Sharaf al-Din al-Tusi menemukan turunan dari fungsi kubik, sebuah hasil yang penting dalam kalkulus diferensial. Pada abad ke-14, Madhava, bersama dengan matematikawan-astronom dari Mazhab astronomi dan matematika Kerala, menjelaskan kasus khusus dari deret Taylor, yang dituliskan dalam teks Yuktibhasa.
Pada zaman modern, penemuan independen terjadi pada awal abad ke-17 di Jepang oleh matematikawan seperti Seki Kowa. Di Eropa, beberapa matematikawan seperti John Wallis dan Isaac Barrow memberikan terobosan dalam kalkulus. James Gregory membuktikan sebuah kasus khusus dari teorema dasar kalkulus pada tahun 1668.
Gottfried Wilhelm Leibniz pada awalnya dituduh menjiplak dari hasil kerja Sir Isaac Newton yang tidak dipublikasikan, namun sekarang dianggap sebagai kontributor kalkulus yang hasil kerjanya dilakukan secara terpisah. Leibniz dan Newton mendorong pemikiran-pemikiran ini bersama sebagai sebuah kesatuan dan kedua orang ilmuwan tersebut dianggap sebagai penemu kalkulus secara terpisah dalam waktu yang hampir bersamaan. Newton mengaplikasikan kalkulus secara umum ke bidang fisika sementara Leibniz mengembangkan notasi-notasi kalkulus yang banyak digunakan sekarang.
Ketika Newton dan Leibniz mempublikasikan hasil mereka untuk pertama kali, timbul kontroversi di antara matematikawan tentang mana yang lebih pantas untuk menerima penghargaan terhadap kerja mereka. Newton menurunkan hasil kerjanya terlebih dahulu, tetapi Leibniz yang pertama kali mempublikasikannya. Newton menuduh Leibniz mencuri pemikirannya dari catatan-catatan yang tidak dipublikasikan, yang sering dipinjamkan Newton kepada beberapa anggota dari Royal Society.
Pemeriksaan secara terperinci menunjukkan bahwa keduanya bekerja secara terpisah, dengan Leibniz memulai dari integral dan Newton dari turunan. Sekarang, baik Newton dan Leibniz diberikan penghargaan dalam mengembangkan kalkulus secara terpisah. Adalah Leibniz yang memberikan nama kepada ilmu cabang matematika ini sebagai kalkulus, sedangkan Newton menamakannya "The science of fluxions". Sejak itu, banyak matematikawan yang memberikan kontribusi terhadap pengembangan lebih lanjut dari kalkulus.
Dorman dan Maanen (2008) dalam Sopiany & Rikayanti (2018) mengatakan kalkulus adalah salah satu topik dalam matematika dimana manipulasi algoritma dengan symbol lebih mudah dalam memahami konsep dasar. Pada kalkulus diferensial banyak melibatkan masalah terkait dengan laju perubahan dan gerak objek. Dengan prasyarat konsep fungsi dan limit serta sistem bilangan real. Beberapa konsep awal yang diterapkan sebagai pengantar menuju kalkulus diferensial adalah seputar limit fungsi, yang merupakan cikal bakal dari konsep ini. Kalkulus memiliki aplikasi yang luas dalam bidang-bidang sains, ekonomi, dan teknik; serta dapat memecahkan berbagai masalah yang tidak dapat dipecahkan dengan aljabar elementer.
Konsep kalkulus telah dikembangkan terlebih dahulu di Mesir, Yunani, Tiongkok, India, Iraq, Persia, dan Jepang, penggunaaan kalkulus modern dimulai di Eropa pada abad ke-17 sewaktu Isaac Newton dan Gottfried Wilhelm Leibniz mengembangkan prinsip dasar kalkulus. Aplikasi kalkulus diferensial meliputi perhitungan kecepatan dan percepatan, kemiringan suatu kurva, dan optimalisasi. Aplikasi dari kalkulus integral meliputi perhitungan luas, volume, panjang busur, pusat massa, kerja, dan tekanan. Aplikasi lebih jauh meliputi deret pangkat dan deret Fourier.
Kalkulus juga digunakan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih rinci mengenai ruang, waktu, dan gerak. Selama berabad-abad, para matematikawan dan filsuf berusaha memecahkan paradoks yang meliputi pembagian bilangan dengan nol ataupun jumlah dari deret takterhingga. Seorang filsuf Yunani kuno memberikan beberapa contoh terkenal seperti paradoks Zeno. Kalkulus memberikan solusi, terutama di bidang limit dan deret takterhingga, yang kemudian berhasil memecahkan paradoks tersebut.
Dalam kalkulus, notasi Leibniz, dinamakan untuk menghormati filsuf dan matematikawan Jerman abad ke-17 Gottfried Leibniz, menggunakan simbol  dan  untuk melambangkan pertambahan "kecil takhingga" (atau infinitesimal) dari  dan , sebagaimana  dan  melambangkan pertambahan hingga dari  dan . Untuk y sebagai fungsi dari x
turunan y terhadap x, yang kemudian dipandang sebagai
adalah, menurut Leibniz, hasil bagi dari pertambahan kecil takhingga dari y oleh pertambahan kecil takhingga x, atau

2.      Matematika Formal
Martin dan Harel (1989), Moore (1994), dan Epp (2003) dalam Santosa (2013) melakukan penelitian terhadap mahasiswa matematika yang mengalami kesulitan dalam mengkonstruksi, memahami, dan melakukan validasi pembuktian. Martin dan Harel (1989) menemukan bahwa sebanyak 52% mahasiswa matematika dalam pembelajaran menerima sebuah argumen yang keliru sebagai sebuah bukti dari pernyataan yang tidak familiar.
Dalam membangun sistem logika formal, Aristotle, dalam bukunya On Interpretation (Aristote dalam Guerrier, 2008), mengekstrak pernyataan formal dari bahasa yang umum, lalu memberikan suatu bentuk standar dalam mengkuantifikasi pernyataan dan memperjelas perbedaan antara kontradiksi (dimana dua nilai kebenaran yang berbeda dihadapkan,misal setiap A adalah B atau beberapa A tidak B) dan contrariety (oposisi yang lebih radikal yang memberikan kemungkinan kedua pernyataan bernilai salah, misal setiap A adalah B atau tidak ada A yang B).
Formal secara epistemologis dalam menjustifikasi sebuah pernyataan, memiliki sifat konsisten, analitis, koheren, ideal dan apriori. Dengan sifat-sifat tersebut, setiap pernyataan menjadi logis dan konsisten. Metodenya meliputi deduksi yang mengarah kepada generalisasi, semantik dan sintaks yang bersifat rigor atau akurat. Melalui tiga metode tersebut, manusia dapat memanipulasi ruang dan waktu. Ruang dimanipulasi dengan menetapkan atom dan parameter dalam membangun kebenaran. sedangkan waktu dimanipulasi dengan sintaks. Dalam konteks Matematika, Hilbert berusaha untuk menciptakan matematika sebagai suatu sistem yang tunggal, lengkap dan konsisten. David Hilbert (1642-1943) (Marsigit, 2012) berpendapat bahwa matematika adalah tidak lebih atau tidak kurang sebagai bahasa matematika.
Peterson, I., (1998) menjelaskan bahwa pada awal abad ke-20, David Hilbert (1862-1943) menganjurkan program yang ambisius untuk merumuskan suatu sistem aksioma dan aturan inferensi yang akan mencakup semua matematika, dari dasar aritmatika hingga mahir kalkulus; impiannya adalah menyusun metode penalaran matematika dan menempatkan mereka dalam kerangka tunggal. Hilbert menegaskan bahwa suatu sistem formal dari aksioma dan aturan harus konsisten, yang berarti bahwa seseorang tidak dapat membuktikan sebuah pernyataan dan kebalikannya pada saat yang sama, ia juga menginginkan skema yang lengkap, artinya satu selalu dapat membuktikan pernyataan yang diberikan bisa benar atau salah.
Hilbert berpendapat bahwa harus ada prosedur yang jelas untuk memutuskan apakah suatu proposisi tertentu berikut dari himpunan aksioma, dengan itu, diberikan sebuah sistem yang jelas dari aksioma dan aturan inferensi yang tepat, akan lebih mungkin, meskipun tidak benar-benar praktis, untuk menjalankan melalui semua proposisi mungkin, dimulai dengan urutan terpendek simbol, dan untuk memeriksa mana yang valid. Pada prinsipnya, suatu prosedur keputusan secara otomatis akan menghasilkan semua teorema mungkin dalam matematika.
Kleiner (1991) dalam Santosa (2013) menyatakan bahwa gagasan pembuktian itu bukanlah hal yang absolut. Matematikawan memandang bahwa apa yang mendasari keterterimaan bukti semakin meningkat.  Masih menurut Kleiner (1991) matematika rigor mirip seperti memakai pakaian, gayanya hendaknya disesuaikan dengan kesempatan tertentu, hal ini akan mengurangi kenyamanan dan menghalangi kebebasan bergerak jika terlalu longgar atau terlalu ketat. Dari dua pernyataan Kleiner tersebut bisa kita katakan bahwa standar dari kerigoran dari bukti matematika dapat berubah-ubah dan tidak harus dari yang kurang rigor menuju ke yang lebih rigor.
Matematika formal didasarkan pada logika formal; mengurangi hubungan matematis untuk pertanyaan keanggotaan himpunan; objek primitif hanya terdefinisi dalam matematika formal adalah himpunan kosong yang berisi apa-apa. Ada klaim bahwa hampir setiap abstraksi matematika yang pernah diselidiki dapat diturunkan sebagai seperangkat aksioma teori himpunan dan hampir setiap bukti matematis yang pernah dibangun dapat dibuat dengan asumsi tidak ada di luar yang aksioma. Itu juga menyatakan bahwa jika tak terhingga merupakan potensi dan tidak pernah menjadi kenyataan selesai maka himpunan terbatas tidak ada, karena itu, ahli matematika mencoba untuk mendefinisikan struktur tak terbatas yang paling umum dibayangkan karena itu tampaknya memberikan harapan paling baik, jika himpunan tidak terbatas ada maka akan menjadi landasan matematika yang kokoh. Lebih lanjut, ia menyatakan bahwa matematika harus langsung terhubung ke sifat program non-deterministic di alam semesta yang potensial tidak terbatas, hal ini akan membatasi ekstensi untuk sebuah himpunan bilangan ordinal dan himpunan yang dapat dibangun dari mereka.

3.      Teorema Godel dan Bilangan Godel
Teorema ketaklengkapan Gödel (Gödel's incompleteness theorems) adalah dua teorema logika matematika yang menetapkan batasan inheren dari semua kecuali sistem aksiomatik yang paling trivial yang mampu mengerjakan aritmetika. Teorema-teorema ini, dibuktikan oleh Kurt Gödel pada tahun 1931, penting baik dalam logika matematika maupun dalam filsafat matematika. Teorema ketaklengkapan pertama: Jika suatu sistem formal S yang memuat bahasa formal dari aritmatika dan S konsisten maka terdapat kalimat aritmatika A yang bernilai benar tapi tidak dapat dibuktikan di S. Teorema ketaklengkapan kedua: Jika suatu sistem formal S yang memuat bahasa formal dari aritmatika dan S konsisten maka kekonsistenan S tidak terbukti di S. Teorema ketaklengkapan kedua menguatkan teorema ketidaklengkapan pertama, karena pernyataan yang dikonstruksi dalam teorema ketidaklengkapan pertama tidak secara langsung menyatakan konsitensi teori itu. Bukti dari teorema ketidaklengkapan kedua diperoleh dengan memformalisasi bukti dari teorema ketidaklengkapan pertama dari dalam teori itu sendiri.
Penomoran Gödel adalah fungsi yang memberikan setiap simbol dan formula yang terbentuk dengan baik dari beberapa bahasa formal sebagai bilangan alami yang unik, yang disebut bilangan Gödel. Konsep ini digunakan oleh Kurt Gödel untuk membuktikan teorema ketidaklengkapannya.
Gödel menunjukkan bahwa S dapat membuktikan P (n) hanya dalam kasus n adalah bilangan Gödel yang Teorema dari S; maka di sana ada k, sehingga k adalah Gödel-jumlah rumus P (k) = G dan pernyataan ini kata dari dirinya sendiri, tidak dapat dibuktikan. Menurut Gödel, bahkan jika kita mendefinisikan sebuah sistem formal baru S = S + G, kita dapat menemukan G yang tidak dapat dibuktikan di S, dengan demikian, S dapat membuktikan bahwa jika S adalah konsisten, maka G tidak dapat dibuktikan. Gödel menjelaskan bahwa jika S dapat membuktikan cst (S), maka S dapat membuktikan G, tetapi jika S adalah konsisten, tidak dapat membuktikan G, sehingga tidak dapat membuktikan konsistensi. Dengan demikian, Program Hilbert tidak bekerja, satu tidak dapat membuktikan konsistensi teori matematika. Namun, Folkerts menunjukkan bahwa Gentzen melihat Teorema ketidaklengkapan Gödel dan bertanya-tanya mengapa sistem formal untuk aritmatika sangat lemah bahwa itu tidak dapat membuktikan konsistensi sendiri. Wittgenstein dengan brilian mengatasi ketegangan antara formalisme dan deskripsi dunia. Tetapi ketika menghadapi logika kuantor, pertanyaan ini jarang dieksplor Beberapa tahun kemudian, Tarski, berhasil menyelesaikan logika kuantor dan meraih apa yang Wittgenstein peroleh pada proposisi logis

4.      Tarski
Tarski (dalam Guerrier, 2008) dalam tulisannya yang berjudul “The concept of truth in languages of deductive sciences” menunjukkan bahwa tujuannya adalah menyusun definisi dari proposisi kebenaran yang memadai secara materi dan tepat secara formal. Proyek Tarski adalah menjembatani secara nyata antara sistem formal dan realita. Pada tahun 1944 dia mengemukakan kembali konsep kebenaran klasik milik Aristoteles dalam bahasa yang modern melalui definisi berikut: “‘the truth of a proposition lies in its agreement (or correspondence) with reality; or a proposition is true if it designates an existent state of things.’’ Kebenaran proposisi terletak pada kesepakatan (atau korespondensi) dengan realita, atau suatu proposisi bernilai benar jika ia membentuk status keberadaan sesuatu.
Model pendekatan teoritik dikembangkan oleh Tarski dalam bukunya Introduction to logic and to the methodology of the deductive sciences. Diketahui suatu teori deduktif yang memungkinkan memahami suatu sistem aksiomatik sebagai bahasa formal dan mengintepretasikan kembali sistem dengan interpretasi yang lain. Interpretasi dimana suatu aksioma bernilai benar disebut dengan model sistem aksiomatik. Pendekatan ini (Beth, 1962) menjadikan tak berhingga banyaknya formula sebagai aksioma, yang diperoleh dari beberapa aksioma tertentu yang digunakan berulang-ulang pada aturan inferensial. Aksioma-aksioma tersebut dinamakan tesis. Beberapa karakter tesis yang mendasar antara lain,
1.     U→(V→U),
2.     [U→(V→W)]→[(U→V)→(U→W)],
3.     [(U→W)→U]→U
Dari tesis-tesis tersebut dikembangkan menggunakan skema inferensial dan modus Ponens sehingga diperoleh berbagai teorema. Misalnya akan dibuktikan bahwa (V→W)→[(U→V)→(U→W)] juga merupakan tesis. Dari karakter aksioma I maka dapat disusun implikasi berupa (1)  (V→W)→[(U→(V→W)]. Sedangkan dari karakter aksioma II dapat disusun implikasi (2) [U→(V→W)]→[(U→V)→(U→W)]. Dari (1) dan (2) dengan skema (iij) maka diperoleh (V→W)→[(U→V)→(U→W)]. Hal tersebut memberikan beberapa hasil yang penting:
“Semua teorema dibuktikan dari suatu sistem aksiomatik yang valid untuk setiap interpretasi sistem”
Teorema tersebut menunjukkan hubungan antara semantik dan sintak sekaligus mengarahkan kita kepada metode yang penting dalam pembuktian bahwa suatu pernyataaan bukan merupakan konsekuensi logis dari teori aksioma. Dengan begitu, Tarski telah memberikan perbedaan yang jelas antara kebenaran dalam suatu interpretasi dan kebenaran sebagai konsekuensi logis dari suatu sistem aksiomatik.

5.      Alan Turing
Folkerts (2004) menemukan bahwa Alan Turing mendefinisikan fungsi sebagai program untuk untuk menghitung dengan mesin sederhana di mana fungsi ini sama dengan apa yang Gödel pikirkan. Menurut Alan Turing, semua definisi dari fungsi yang berbeda dapat dihitung dengancara membuat himpunan yang sama dengan fungsi yang ada. Fungsi dapat dihitung karena yang paling banyak cara untuk program mesin Turing dan jumlah fungsi yang mungkin dapat ditetapkan, sehingga fungsi dapat ditentukan secara teoritis sebagai sebuah pengecualian. Alan Turing menunjukkan bahwa fungsi adalah relasi yang tak terhitung yang menghasilkan output yang tergantung pada variabel acak.
Sejak awal perkembangan kalkulus, angka telah menjadi obyek minat dan kontroversi di sejarah matematika. Hasil fundamental dalam kalkulus diferensial dan integral pertama kali diperoleh dengan alasan informal dengan jumlah yang sangat kecil, mudah terlihat pada penggunaan yang tanpa batasan sehingga menimbulkan kontradiksi. Perlakuan yang benar dari infinitesimals harus menunggu perkembangan bidang baru matematika, yaitu logika matematika dan teori model. Fakta dasar dalam teori model adalah setiap tak terbatas struktur matematika memiliki model yang tidak standar yaitu struktur non-isomorfik. Maksudnya adalah ada yang berbeda tapi strukturnya setara, mereka tidak dapat dibedakan dengan sifat dasar karena "kata-kata tidak cukup untuk menggambarkan realitas".

6.      Matematika Non Standar
Keberadaan model tidak standar pertama kali ditunjukkan oleh Thoralf Skolem di akhir dua puluhan, minat yang kuat di properti mereka hanya muncul di lima puluhan, ketika studi intensif model aritmatika tidak standar dimulai (Nasso, tanpa tahun). "Penemuan" analisis tidak standar dapat dilakukan pada tahun 1960, ketika Abraham Robinson memiliki gagasan untuk menerapkan analisis model-teori mesin. Menurut beberapa penulis, prestasi Robinson mungkin menjadi salah satu matematika utama kemajuan abad ini. Adanya ekstensi tidak standar R dari sistem bilangan real, disebut angka hiperreal yang bertentangan dengan teorema karakterisasi terkenal untuk R. Prinsip transfer Leibnitz dapat diberikan formulasi sebagai berikut.
Setiap properti dapat dituliskan sebagai formula urutan pertama
bilangan real R jika dan hanya jika itu benar dari bilangan real apa pun
sistem R.
Penggunaan metode yang tidak standar agak berbeda sifatnya karena membutuhkan pengertian dari logika matematika untuk menguji kebenarannya. Metode tidak standar tidak menimbulkan matematika tidak standar dikontraskan dengan matematika standar.
a)      Pendekatan Superstruktur.
Presentasi Abraham Robinson dikembangkan dalam tipe-teoretis versi logika tingkat tinggi. Sebagaimana formalisme logis dibutuhkan tampaknya rumit bagi kebanyakan ahli matematika, pendekatan lain menjadi lebih populer dalam prakteknya, yaitu yang lebih "konkret" yang didasarkan pada konstruksi kekuatan ultra R. Penggunaan ultrapower dalam analisis tidak standar dipopulerkan oleh Wilhelmus Luxemburg. Pendekatan Superstruktur merupakan pembahasan yang paling popular di analisis tidak standar. Sistem bilangan real perlu memperhatikan interval, fungsi, ruang fungsi, norma, topologi, dan sebagainya. Ruang F dari fungsi real diidentifikasi dengan subset dari himpunan bilangan real, dan topologi pada F (subset dari himpunan bagian F). Robinson dan Zakon memiliki gagasan untuk mengambil superstruktur sebagai semesta untuk praktik matematika.
b)     Keterbatasan Dasar Pendekatan Superstruktur.
Pendekatan superstruktur sepenuhnya dikembangkan dalam teori himpunan, sehingga tidak menghadirkan masalah mendasar. Namun, itu mengungkapkan batasan serius jika diusulkan sebagai kerangka kerja untuk penggunaan metode tidak standar dalam matematika secara umum. Berikut adalah daftar tentatif dari batasan tersebut.
a.       Model superstruktur hanya merupakan bagian dari ZFC.
Karena superstruktur hanya terdiri dari set peringkat terbatas dalam kumulatif  hierarki, mereka tidak memenuhi aksioma Infinity.
b.      Super struktur yang berbeda diperlukan untuk masalah yang berbeda.
Misalkan kita ingin mempelajari struktur matematika M dengan menggunakan metode tidak standar. Pertama, kita harus mengambil hak suprastruktur V ( X ) untuk tujuan itu. Jelas bahwa embeddings tidak standar yang berbeda harus dipilih untuk menghadapi masalah yang berbeda.
c.       Metode tidak standar tidak berkaitan dengan superstruktur.
Perumusan dan penggunaan metode tidak standar tidak memiliki koneksi dengan gagasan set-teoretis teknis hirarki set kumulatif.
d.      Secara estetika terdapat keinginan untuk menggunakan semua teknik yang tidak standar di dalam sistem aksiomatik terpadu.
Tujuan memberikan kerangka dasar umum di mana hampir semua matematika termasuk argumen tidak standar dapat tertanam, mengarah ke formulasi berbagai teori himpunan tidak standar.
c)      Mencari Teori Himpunan Tidak Standar
Kreisel tahun 1969 mengusulkan sistem formal NS untuk analisis tidak standar, di mana aksioma dirumuskan memanfaatkan dari * simbol notasi pendekatan suprastruktur. Berdasarkan berbagai sistem aksiomatik, kondisi ideal teori himpunan tidak standar T harus memenuhi karakteristik sebagai berikut:
a.    T adalah perpanjangan dari "standar" matematika seperti yang diformalkan oleh klasik Zermelo-Fraenkel menetapkan teori ZFC. 
b.  Postulat T menggunakan prinsip transfer antara standar dan internal semesta untuk bahasa matematika biasa.
c.     T mencakup prinsip saturasi yang kuat, kadang-kadang disebut idealisasi .
d. T memungkinkan standarisasi. Artinya, untuk himpunan yang diberikan, seseorang dapat mengambil himpunan dari semua elemen standarnya, dan hasilnya adalah himpunan standar juga.
e.   T konservatif dibanding ZFC. Yaitu, fakta standar dibuktikan oleh T jika dan hanya jika itu dibuktikan oleh ZFC.
Dengan demikian setiap teori himpunan tidak standar yang diusulkan harus melemahkan sebagian aksioma ZFC di semesta eksternal, atau mengasumsikan beberapa prinsip analisis tidak standar dalam bentuk yang lemah.
d)     Teori Himpunan Internal Nelson
Internal Teori IST disampaikan oleh Edward Nelson pada tahun 1977. Teori himpunan Internal adalah sebuah teori yang diformulasikan sebagai hasil dari posisi filosofis. Teori himpunan biasa, predikat tambahan st, yang disebut "standar", adalah bagian dari bahasa formal. Sehingga pengertian dari himpunan standar adalah dari sifat yang sama dengan hubungan keanggotaan, yaitu konsep dasar tidak boleh didefinisikan.
e)      Teori Himpunan Tidak Standar  Hrba˘cek
Karel Hrbá˘cek mengembangkan teori himpunan yang tidak standar NS1, NS2 dan NS3. Sistem yang secara eksplisit dianggap sebagai perangkat eksternal di alam semesta, kemudian ditambahkan dua simbol ke bahasa biasa teori himpunan, yaitu predikat st ( x ) untuk " x adalah standar" dan predikat int ( x ) untuk " x adalah internal".
Tiga teori Hrbá˘cek adalah sistem yang diberikan oleh tujuh kelompok aksioma berikut.
a.       ZFC untuk semesta standar.
Untuk setiap φ aksioma ZFC, perelatifan standar φst diasumsikan
b.      Sebuah fragmen ZFC untuk semesta eksternal.
Aksioma ekstensionalitas, himpunan kosonh, pairing, union, infinity, dan pemisahan diasumsikan untuk kelas universal
c.    Semua set standar adalah internal.
d.      Semesta dari himpunan internal adalah transitif.
e.       Prinsip transfer
Untuk setiap -formula ϕ yang variabel bebasnya x1 , ..., xn
f.        Prinsip standarisasi
g.      Prinsip idealisasi
f)       Sistem aksiomatis Kawai NST.
   Kontribusi penting untuk dasar metode yang tidak standar diberikan oleh Toru Kawai dengan menyajikan sistem aksiomatik di mana semua aksioma ZFC diasumsikan untuk semesta eksternal. Hasil inkonsistensi Hrbá˘cek dihindari dengan melemahkan standardisasi dan mempertimbangkan standar semesta dan internal semesta sebagai himpunan yang benar. Berikut ini adalah aksioma dari Teori Set Nonstandar Kawai NST:
a.       ZFC untuk semesta standar.
Untuk setiap aksioma ϕ ZFC, diasumsikan relativiasi standar ϕ
b.      ZFC - untuk semesta eksternal + Keteraturan Lemah.
Semua aksioma ZFC diasumsikan untuk kelas universal dengan pengecualian keteraturan, yang hanya diasumsikan dalam bentuk lemah berikut.
c.    Semua himpunan standar adalah internal.
d.      i adalah transitif
e.       Prinsip pengalihan
S x 1 ··· S x n ( ϕ S ( x 1 , ..., x n ) ↔ ϕ I ( x 1 , ..., x n ))
f.        Properti standarisasi
g.      Prinsip idealisasi
g)      Teori Himpunan Tidakstandar Bertingkat Fletcher (SNST).
        Fletcher mengeksplorasi kemungkinan untuk menghindari paradoks Hrbá˘cek, dengan secara dinamis mengubah "gambar" semesta. Perumusan Teori Himpunan Nonstandar Stratified SNST dapat diringkas sebagai berikut: meskipun satu sistem formal diperlukan, tidak harus menggambarkan satu semesta. SNST mendalilkan peningkatan urutan semesta internal dan eksternal diindeks di atas kardinal, di mana berbagai tingkat kejenuhan terpenuhi. Idealisasi penuh tidak berlaku, tetapi jumlah saturasi tertentu disediakan dengan bekerja di tingkat yang sesuai dengan hierarki.
Aksioma SNST adalah berikut.
a.       ZFC untuk semesta standar.
Untuk setiap aksioma ϕ ZFC, diasumsikan relativiasi standar ϕ
b.      ZFC - + keteraturan yang lemah untuk semesta eksternal.
c.       i α E α , i α i β dan E α E β untuk semua α ≤ β
d.      Setiap bagian yang sangat eksternal E α \ i α adalah transitif. Seluruh internal semesta i = α i α bersifat transitif.
e.    Prinsip transfer
f.        Prinsip standarisasi
       g.      Prinsip idealisasi
h)     Teori Himpunan Perluasan Ballard's EST.
Dengan menghadirkan perluasannya Teori himpunan EST dalam kerangka teori, Ballard mampu menghindarinya masalah notasi bahasa peringkat. Untuk setiap semesta U dan setiap U - kardinal κ , ada perluasan tak jenuh yang tidak standar κ U U (demikian sebuah U juga merupakan semesta). Dengan demikian, pembesaran U U memiliki sifat seperti sekumpulan semesta pertama dilihat sebagai terbatas oleh kedua semesta hanya jika dilihat sebagai terbatas oleh keduanya. Berikut dua aksioma EST.
a.       Di sana ada semesta U.
b.      Untuk semesta U apa saja dan untuk setiap U- kardinal κ , ada κ - pembesaran jenuh U U.
i)       Teori Himpunan “Hampir-standar” Zermelo-Fraenkel-Boffa ZFBC.
Zermelo-Fraenkel-Boffa mengusulkan Teori Himpunan “Hampir-standar”, dimana simbol relasi biner tambahan C memberikan keteraturan semesta, dan keteraturan tersebut diganti oleh prinsip anti-fondasi yang kuat. Aksioma ZFBC adalah sebagai berikut:
-          Semua aksioma ZFC kecuali keteraturan diasumsikan.
-          C ( x, y ) adalah suatu hubungan fungsional yang menghasilkan bijektif C : ON → V antara aturan dan semesta.
-          Aksioma Superuniversality Boffa
j)        Meningkatkan Pendekatan Internal: Teori BST dan HST.
Dengan mempertimbangkan modifikasi minor dari IST, yaitu Bounded Set Theory BST, seseorang dapat mengkodekan set eksternal ke dalamnya alam semesta internal. Dengan cara ini teori hst tidak standar ( Hrbá˘cek Set Teori ) diperoleh yang mengatasi kendala utama IST. Kanovei dan Reeken mengusulkan aksioma tidak standar sistem, yaitu Hrbá˘cek's Set Theory HST , dirumuskan dalam -st-language.
-          Untuk setiap φ aksioma ZFC, standar-perelatifan φ st diasumsikan.
-          Aksioma ekstensionalitas, pasangan, penyatuan, ketidakterbatasan, pemisahan dan respon penempatan diasumsikan untuk kelas universal
-          Semua himpunan standar adalah internal.
-          Semesta dari himpunan internal bersifat transitif.
-          Prinsip transfer
-          Properti standarisasi
-          Prinsip kejenuhan
Jika himpunan internal memiliki ukuran standar dan memiliki persimpangan properti terbatas, maka memiliki persimpangan tak kosong.
k)     Teori Himpunan Relatif Péraire.
        RST memberikan versi relatif dari pendekatan internal dengan cara relasi biner dari standar. Tidak hanya mempertimbangkan himpunan standar dan tidak standar (ideal), di alam semesta RST adalah seluruh hierarki himpunan yang diatur sesuai dengan urutan linier. Himpunan yang diberikan lebih standar (atau kurang ideal) daripada yang lain, sehingga memformalkan gagasan intuitif terkadang digunakan dalam bahasa matematika informal. Aksioma RST adalah sebagai berikut.
·         Semua aksioma teori himpunan Zermelo-Fraenkel dengan pilihan diasumsikan.
·         Relasi biner st adalah total pre-order
Untuk rumus apa pun ϕ , kita akan menulis [ a ] xϕ berarti x ( x st a → ϕ ) dan [ a ] xϕ berarti x ( x st a ϕ ).
·         Prinsip Transfer, untuk setiap -formula ϕ yang variabel bebasnya x 1 , ..., x n , y, dan untuk setiap a
·         Idealisasi terbatas
·         Idealisasi tidak terbatas
·         Properti standarisasi

l)       Teori Kelas Non-standar Gordon-Andreyev NCT
        Teori Gödel-Bernays GB adalah cara yang mirip dengan Teori Himpunan Internal (dalam bentuk terikat BST) meluas ZFC. Aksioma NCT diberikan formalisasi yang lebih sederhana. Bahkan, transfer, idealisasi dan standardisasi diformulasikan sebagai aksioma tunggal dan bukan aksioma schemata. Bahasa NCT diperoleh dengan menambahkan simbol st untuk standar kelas ke bahasa biasa. Aksioma adalah sebagai berikut.
1.      Semua aksioma teori Gödel-Bernays diasumsikan, di mana pilihan dipostulasikan untuk himpunan, dan penggantian mengambil bentuk kumpulan aksioma:
Untuk setiap aksioma keberadaan kelas, modifikasinya dengan quantifiers over variabel kelas yang dibatasi oleh predikat st ( st ,   st ) ditambahkan.
2.      Ada kelas semua set standar. S x (st ( x ) ↔ x S )
3.      Batas. x st y x y
4.      Prinsip Transfer. st X ( X = st x ( x X ))
5.      Properti Standardisasi. X st Y st y ( y Y ↔ y X )
6.      Pemisahan untuk Kelas Internal. int X x y ( y = x ∩ X )
7.      Prinsip Idealisasi.
int X st o [ stfin c o x a c (<x, a> X) x st a a o ( x, a X )]
8.      Properti Kejenuhan. Setiap kelas X p -atur untuk beberapa set p .
m)   Pendekatan * ZFC
Empat kelompok aksioma ZFC adalah sebagai berikut.
a.       di mana skema pemisahan dan penggantian juga diasumsikan untuk formula yang mengandung simbol .
b.      adalah pemetaan dengan domain S
c.       Embedding tidak standar menjaga semua operasi Gödel.
d.      Skema Kejenuhan. Jika κ kardinal didefinisikan oleh -formula, maka properti κ -aturasi memegang. Lebih formal lagi, untuk setiap -formula ϕ ( x ) memiliki tepat satu variable bebas
n)     Teori Himpunan Terbatas Reguler Tidak Standar
The Set Nonite Standard Regular Set Theory NRFST, diperkenalkan oleh S. Baratella dan R. Ferro, memberikan pendekatan dasar yang berbeda untuk tidak standar matematika. Aksioma Infinity digantikan oleh negasi dan gagasan baru infinity diperkenalkan dengan menggunakan metode yang tidak standar. Aksioma NRFST adalah:
a.       Teori himpunan terbatas untuk semesta standar.
b.      Semesta dari himpunan internal adalah transitif.
c.       Prinsip Transfer. Untuk setiap -formula ϕ yang variabel bebasnya x 1 , ..., x n
d.      Properti Standardisasi. x st y st z ( z = x ∩ y )
e.       Prinsip Idealisasi. st y 1 , ···, st y n [ st z st y x z ϕ st ( x, y, y 1 , ..., y n )] → int y st xϕ int ( x, y, y 1 , ..., y n )
f.        Sebuah fragmen ZFC untuk alam semesta eksternal. Aksioma ekstensionalitas, pasangan, kesatuan, skema pemisahan, dan aksioma pilihan diasumsikan.

7.      Teori Kategori
Teori kategori berhubungan dengan struktur matematika dan hubungan antar struktur tersebut secara abstrak. Saat ini kategori digunakan dalam matematika, informatika teori, dan fisika matematis. Kategori diperkenalkan pertama kali oleh Samuel Eilenberg dan Saunders Mac Lane pada tahun 1942-1945, dalam hubungannya dengan topologi aljabar.
Misalkan kita mempunyai himpunan (yang disebut dengan object beserta fungsi total di antar himpunan tersebut (morphism), maka properti kategori adalah sebagai berikut.
1.      Tipe Fungsi. f: A -> B berarti fungsi f memetakan dari himpunan A ke himpunan B.
2.      Komposisi. Kita bisa menggabungkan dua fungsi f dan g, jika himpunan target dari fungsi pertama sama dengan himpunan sumber dari fungsi kedua, misal f: A -> B dan g: B -> C untuk beberapa himpunan A,B, dan C. Komposisi biasanya dilambangkan dengan gof.
3.      Fungsi Identitas. Untuk setiap himpunan A, terdapat fungsi identitas id A : A -> A

8.      Transformasi Model
Transformasi model secara umum dibagi menjadi dua, yaitu
1.      Yang ada, segala sesuatu yang keberadaannya ada baik yang ada dalam pikiran maupun yang ada diluar pikiran (dapat diindera).
2.      Yang mungkin ada, segala sesuatu yang keberadaannya belum tentu ada atau tidak akan pernah ada.


Objek belajar filsafat adalah yang ada dan yang mungkin ada, dengan kata lain filsafat memiliki objek kajian yang sangat luas. Dalam filsafat di kenal istilah transformasi dunia dimana kita sebagai manusia mencoba untuk mempelajari seperti apa itu dunia dalam lingkup kajian filsafat. Untuk memahami tentang yang ada dan yang mungkin ada, akan dijelaskan beberapa ilustrasi berikut. Pak Marsigit ingin mengambil sesuatu dari dalam saku celana, kemudian Bapak menanyakan kepada mahasiswa apa yang akan diambil. Secara tidak sadar pasti kita akan memikirkan bahwa terdapat suatu barang yang ada didalam saku. Meskipun setiap mahasiswa dapat membayangkan apa saja yang mungkin, tidak menutup kemungkinan barang yang dipikirkan berbeda-beda. Proses tersebut selanjutnya disebut dengan yang mungkin ada didalam pikiran kita. Kemudian Pak Marsigit mengeluarkan sebuah dompet berwarna coklat. Setelah melihat langsung, maka dompet coklat tersebut pasti ada dalam pikiran kita.
Ilustrasi berikutnya adalah Beliau meminta lima orang mahasiswa untuk menutup mata, lima orang menutup telinga, dan lima orang lainnya boleh melihat dan mendengar. Bapak bermaksud mengambil kembali suatu barang di saku celana. Selanjutnya Bapak mengeluarkan barang tesebut dan menanyakan kepada masing-masing kelompok mahasiswa. Ternyata Pak marsigit mengeluarkan tutup spidol berwarna hitam. Bagi kelompok mahasiswa yang ditutup matanya, mereka tidak mengetahui bahwa benda yang diambil adalah spidol dan berwarna hitam, meskipun dapat mendengar. Bagi kelompok mahasiswa yang ditutup teliganya, mereka dapat mengetahui bahwa tutup spidol yang diambil dari dalam saku berwarna hitam karena boleh melihat. Sedangkan bagi kelompok mahasiswa yang dapat melihat dan mendengar sudah pasti mengetahui benda yang diambil. Jadi dalam kehidupan itu terdiri dari hal-hal yang mungkin ada menjadi sesuatu yang ada didalam pikiran sesuai dengan ruang dan waktunya.

C.     Hermenitik Konstruktif
Istilah Hermeneutika dalam Bahasa Inggris adalah hermeneutics, dalam Bahasa Yunani hermeneuine dan hermeneia yang berarti menafsirkan dan penafsiran. Ada dua unsur dalam hermeneutika, yaitu lurus dan melingkar. Lurus berarti kita tidak pernah mengulang hal yang sama dalam hidup kita karena semuanya menembus ruang dan waktu. Sedangkan melingkar bermakna berinteraksi. Hermeneutik merupakan bangunan epistimologi yang muncul bukan sebagai tradisi berfikir mandiri, melainkan hasil reaksi, dan koreksi dari beberapa pemikiran. Wolff (1991:189) menyebutkan bahwa pemikiran yang hadir memiliki implikasi pada pemahaman, masuk dalam pembahasan ontologi penafsiran. Gadamer merupakan salah satu filosof yang mampu meletakkan pondasi baru dalam persoalan ontologis (Hasanah, 2017). Pokok penting teori hermeneutik Gadamer mengacu lingkaran hermenutik mengenai pemahaman. Pemahaman merupakan proses kesadaran menyejarah, lahir karena keterlibatan dimensi waktu yaitu past, present, dan future.
Pemodelan matematika menurut Prayudi dalam Theodore (2016) merupakan bidang matematika yang berusaha untuk mempresentasikan dan menjelaskan sistem-sistem fisik atau problem pada dunia real dalam pernyataan matematika sehingga diperoleh pemahaman dari problem dunia real ini menjadi lebih tepat. Sederhananya, model matematika merupakan usaha untuk menggambarkan suatu fenomena ke dalam bentuk rumus matematis sehingga mudah untuk dipelajari dan dilakukan perhitungan.
Teori model diawali dengan asumsi keberadaan obyek-obyek matematika (misalnya keberadaan semua bilangan) dan kemudian mencari dan menganalisis keberadaan operasi-operasi, relasi-relasi, atau aksioma-aksioma yang melekat pada masing-masing obyek atau pada obyek-obyek tersebut. Indenpensi dua hukum matematis yang lebih dikenal dengan nama axiom of choice, dan contnuum hypothesis dari aksioma-aksioma teori himpunan (dibuktikan oleh Paul Cohen dan Kurt Godel) adalah dua hasil terkenal yang diperoleh dari teori model. Telah dibuktikan bahwa axiom of choice dan negasinya konsisten dengan aksioma-aksioma Zermelo-Fraenkel dalam teori himpunan dan hasil yang sama juga dipenuhi oleh contnuum hypothesis. Model matematika yang diperoleh dari suatu masalah matematika yang diberikan, selanjutnya diselesaikan dengan aturan-aturan yang ada. Penyelesaian yang diperoleh, perlu diuji untuk mengetahui apakah penyelesaian tersebut valid atau tidak. Hasil yang valid akan menjawab secara tepat model matematikanya dan disebut solusi matematika. Jika penyelesaian tidak valid atau tidak memenuhi model matematika maka solusi masalah belum ditemukan, dan perlu dilakukan pemecahan ulang atas model matematikanya.
Matematika model dikelompokkan menjadi beberapa jenis, berdasarkan objeknya, pola matematika, dan kekontinuan data. Berdasarkan objeknya, terdapat model lingkungan, model keuangan, model penyakit, model sistem control, dan model logistic. Berdasarkan pola matematika, terdapat model diferensial, dan model stokastik. Berdasarkan kekontinuan data, terdapat model deterministic dan model kontinu. Langkah-langkah pemodelan matematika (Skem, 1987) secara singkat adalah berikut:
a)      memahami masalah di bidang yang bersangkutan,
b)      menyusun model matematika,
c)      menyelesaikan model matematika (mencari jawaban model),
d)      menafsirkan jawaban model menjadi jawaban atas masalah yang nyata.
Memperhatikan pendapat Skemp dan Blum/Leiss, langkah-langkah pemodelan matematika adalah
a)      memahami terhadap masalah yang dihadapi,
b)  menyederhanakan masalah atau menyusun struktur, misalnya dengan membuat table, diagram, atau skema
c)      menyusun model matematika melalui proses abstraksi dan idealisasi,
d) menyelesaikan model matematika dengan melakukan operasi dan manipulasi untuk memperoleh jawaban model,
e)      menafsirkan jawaban model berdasar pada masalah yang sebenarnya,
f)       memvalidasi apakah jawaban menjawab pertanyaan masalah sebenarnya,
g)      menyajikan model yang mungkin berlaku lebih luas








Dalam rangka memperoleh model yang lebih baik maka perlu dimanfaatkan diagram, data, dan informasi yang lain. Proses abstraksi adalah adalah pemilihan beberapa sifat yang sama yang dimiliki oleh setiap anggota dalam suatu himpunan dan pemilihan sifat yang sama tersebut berdasarkan pada kebutuhan. Abstraksi merupakan proses menyusun formula dari pengertian atau konsep yang digeneralisir dari sifat-sifat yang dimiliki bersama dalam suatu himpunan objek dengan mengabaikan perbedaan yang ada pada objek-objek tersebut (Borowski dan Borwein, 2007) dalam Suyitno & Asih (2018).  Dalam penyusunan model matematika, di samping abstraksi juga idealisasi, yaitu menganggap bahwa sesuatu itu sempurna, misalnya menganggap permukaan meja adalah bidang datar, tepian meja sebagai garis lurus yang sempurna, dsb. Idealisasi adalah menganggap representasi dari sesuatu sebagai sesuatu yang ideal. 
Dalam proses penyusunan model matematika dari masalah yang sederhana langkah pertama adalah memahami informasi yang terkandung dalam masalah nyata. Dalam rangka pemecahanan masalah ada hal-hal yang sudah diketahui dengan jelas dan ada hal-hal yang diperlukan tetapi belum diketahui. Hal-hal yang belum diketahui atau hal-hal yang ditanyakan akan menjadi variable dalam penyusunan model, sedangkan hal-hal yang diketahui dengan pasti akan menjadi konstanta. Langkah selanjutnya adalah menentukan hubungan antar variable dan konstanta serta memilih symbol-simbol untuk setiap variable. Selanjutnya menyusun formula hubungan antar variable dan konstanta. Penulisan model matematika harus memperhatikan keakuratan simbol serta makna dibalik simbol, sehingga model matematika tersebut benar-benar merepresentasikan data-data yang ada. Kadang-kadang dalam suatu masalah, pemecahannya berkaitan dengan waktu. Model matematika yang terkait dengan waktu dikenal dengan istilah model dinamik, sedang yang tidak terkait dengan waktu dikenal dengan istilah model static. Pada masalah-masalah yang complex formulasinya tidak sederhana, proses penyusunannya mungkin berulang-ulang dan perlu simulasi serta memerlukan bantuan computer.










DAFTAR PUSTAKA

Beth, Evert W. 1962. Formal methods. Dordrecth: D. Reidel Publishing Company
Bold, T. 2004. Concepts on Mathematical Concepts. http://www.usfca.edu/philosophy/ discourse/8/bold.doc
Dym and Ivey.1980. Principles of Mathematical Modeling.Academic Press.
Folkerts, M.. 2004. Mathematics in the 17th and 18th Centuries,  Encyclopaedia Britannica, http://www.google.search
Guerrier. 2008. Truth versus validity in mathematical proof. ZDM Mathematics Education, 40 (1) p.373-384
Hasanah. 2017. Hermeneutik Ontologis-Dialektis Hans-Georg Gadamer. Jurnal At-Taqaddum, 9(1).
Jorgensen, L.M..2009. The Principle of Continuity and Leibniz’s Theory of Consciousness. Journal of the history of philosophy 47:2 hlm 223-248
Komar, Oong. Tanpa tahun. Body of Knowledge Pendidikan Dasar. PEDAGOGIA : Jurnal Ilmu Pendidikan http://ejournal.upi.edu/index.php/pedagogia/article/download/3330/2312
Nasso, Mauro Di. Tanpa Tahun. On the Foundations of Nonstandard Mathematics
Peterson, I.. 1998. The Limits of Mathematics. The Mathematical Association of America. http://www.sciencenews.org/
Santosa. 2013. Mengatasi Kesulitan Mahasiswa Ketika Melakukan Pembuktian Matematis Formal. Jurnal Pengajaran MIPA, 18(2) hlm. 152-160
Senk, S. L., & Thompson, D. R. (Eds.). 2003. Standards based school mathematics curricula: What are they? What do students learn? Mahwah, NJ: Erlbaum.
Skemp, R.R. 1987. Psychology of Learning Mathematics. Expanded American Edition. Lawrence Erlbaum associates Publishers. New Jersey.
Sopiany, Hanifah Nurus & Rikayanti. 2018. Mensinergikan Kemampuan Geometri dan Analisis pada Mata Kuliah Kalkulus Diferensial Melalui Bahan Ajar Berbasis Geogebra. Kreano. 9(2) hal 164-173
Sumaryanto. 2012. Perspektif Filsafat Olahraga dalam Mewujudkan Masyarakat Sehat. Medikora (9)
Suyitno, Hardi,&Asih, Tri Sri Noor.2018. Langkah-langkah dalam Permodelan Matematika. Direktorat Pembelajaran, Dit Belmawa, Kemenristekdikti RI
Wolff, Janet, Hermeneutics and Sociology dalam H. Etzkowits & Ronald M. Glassman (ed.), Ithaca: F.E. Peacock Publisher Inc., 1991.

Link

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Filsafat Marsigit 2019: Tugas 2 Makalah Filsafat Matematika