Penjelasan Filosofis terhadap Beberapa Objek dan Fenomena Matematika di Sekolah serta Identifikasi Persoalan Filosofis Pembelajaran Matematika Sekolah
FILSAFAT PENDIDIKAN MATEMATIKA
Penjelasan Filosofis terhadap
Beberapa Objek dan Fenomena Matematika di Sekolah serta Identifikasi Persoalan
Filosofis Pembelajaran Matematika Sekolah
Diajukan
kepada Prof. Dr. Marsigit, M. A.
untuk
Memenuhi Tugas Filsafat Ilmu
Oleh:
Aulia Nur Arivina
18709251051
PROGRAM PASCASARJANA PENDIDIKAN
MATEMATIKA
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2019
TUGAS FILSAFAT
1. Penjelasan
Filosofis Terhadap Beberapa Obyek Matematika di Sekolah Menengah Pertama (SMP)
Filsafat
tidak hanya membahas pengetahuan tertentu tetapi induk semua ilmu pengetahuan
yang dapat menjembatani apabila terdapat gap antar ilmu pengetahuan. Filsafat
membantu mengembangkan ilmu pengetahuan secara rasional artinya terbuka
terhadap segala pertanyaan, sangkalan dan harus dipertahankan secara
argumentasi. Filsafat mempunyai cakupan yang sangat luas, sehingga banyak
sekali yang dapat kita pelajari di dalam filsafat. Filsafat Ilmu merupakan
kajian secara mendalam tentang dasar-dasar ilmu. Ilmu sebagai objek kajian
filsafat memiliki ciri-ciri yang spesifik mengenai apa (ontologi), bagaimana
(epistemologi) dan untuk apa (aksiologi) pengetahuan tersebut disusun. Ketiga
landasan ini saling berkaitan; ontologi ilmu terkait dengan epistemologi ilmu,
epistemologi ilmu terkait dengan aksiologi ilmu dan seterusnya.
Ketika
kita ingin membahas epistemologi ilmu, maka akan berkaitan dengan ontologi dan
aksiologi ilmu. Secara detail, tidak mungkin bahasan epistemologi terlepas sama
sekali dari ontologi dan aksiologi. Apalagi bahasan yang didasarkan model
berpikir sistemik, justru ketiganya harus senantiasa dikaitkan. Keterkaitan
antara ontologi, epistemologi, dan aksiologi seperti juga lazimnya keterkaitan
masing-masing sub sistem dalam suatu system membuktikan betapa sulit untuk
menyatakan yang satu lebih penting dari yang lain, sebab ketiga-tiganya
memiliki fungsi sendiri-sendiri yang berurutan dalam mekanisme pemikiran.
Aljabar
adalah topik inti dalam matematika dan dalam matematika sekolah menengah pada
khususnya. Ini adalah instrumen untuk prestasi di bidang matematika lain
seperti geometri, kalkulus, dan statistik. Aljabar berfungsi tidak hanya
sebagai bahasa untuk sains, tetapi juga sebagai pintu gerbang ke matematika
tingkat lanjut dan pendidikan tinggi. Oleh karena itu, pendidikan aljabar yang
sukses adalah prasyarat untuk prestasi dalam pendidikan matematika secara umum.
Pendidikan aljabar awal, yang meliputi langkah pertama peserta didik dalam
domain ini, tentu saja merupakan fase krusial dalam pendidikan aljabar.
Kesulitan
lain yang berkaitan dengan aljabar, menerapkan operasi aritmatika dalam
ekspresi numerik dan aljabar, memahami makna yang berbeda dari tanda yang sama,
dan memahami variabel. Meskipun kesulitan dalam belajar dan mengajar aljabar
adalah fenomena di seluruh dunia, kasus pendidikan aljabar Indonesia layak
mendapat perhatian khusus. Konsep-konsep matematika tersusun secara hierarkis,
terstruktur, logis, dan sistematis mulai dari konsep yang paling sederhana
sampai pada konsep yang paling kompleks.
Dalam
belajar Matematika, ada dua macam pengetahuan yang berbeda yaitu pengetahuan prosedural,
dan pengetahuan konseptual. Pengetahuan prosedural adalah pengetahuan yang
berkaitan dengan simbol-simbol, bahasa dan aturan operasi perhitungan.
Sedangkan pengetahuan konseptual adalah pemahaman terhadap konsep dasar dari
operasi perhitungan tersebut. Dalam matematika terdapat topik atau konsep
prasyarat sebagai dasar untuk memahami topik atau konsep selanjutnya. Ibarat
membangun rumah, maka fondasi yang akan dibangun harus kokoh. Contohnya konsep
bilangan genap. Sebelum membahas bilangan genap, peserta didik harus memahami
dulu konsep bilangan bulat sebagai konsep prasyarat.
2.
Penjelasan
Filosofis Terhadap Fenomena Pembelajaran Matematika di Sekolah Menengah Pertama
(SMP) yang Memuat Unsur Filsafat
Matematika
bekerja melalui proses dekontekstualisasi dan rekontekstualisasi.
Dekontekstualisasi muncul karena perbedaan situasi yang dialami pembaca dan
saat matematika sendiri dibuat, sedangkan rekontekstualisasi proses kembalinya
kedalam konteks. Pengetahuan matematika di Akademi Plato menjadi pintu gerbang
filsafat, upayanya untuk menemukan prinsip-prinsip kekal dan universal yang
akan membawa beberapa keteraturan pada 'kekacauan' eksistensi. Sama pentingnya
pada 'dunia aksiomatik' dengan kata lain teori matematika diuraikan di sekitar
seperangkat aksioma. Akibatnya, matematika telah digambarkan selama ribuan
tahun sebagai subjek teoritis dipisahkan dari asal usul manusia. Freudenthal
(1973) telah menyatakan bahwa urutan angka adalah dasar matematika, secara
historis, genetis, dan sistematis, sehingga tanpa urutan nomor tidak ada
matematika.
Formalisme
matematika dibangun pada urutan 1, 2, 3, ..., disebut oleh matematikawan
sebagai angka 'alami'. Dimensi 'Plato' yang alami ini mengaitkan
ketakberhinggaan, prioritas, dan tiada akhir pada matematika, memberikannya
dekat dengan fondasi ilahi. Seperti halnya Tuhan yang tidak menuntut keberadaan
dunia, keberadaan matematika tidak tergantung pada asal usulnya di bumi. Jadi,
mulailah sebuah matematisasi dari disiplin matematika itu sendiri, yang akan
mengarah pada pemisahan matematika dari bidang-bidang indra, perasaan, intuisi,
dan praktik-praktik non-eksak.
Posisi
filosofis dan teori epistemologis yang berkaitan dengan matematika, seperti
logika, formalisme, konstruktivisme, strukturalisme, empirisme, selalu memiliki
pengaruh yang signifikan terhadap gagasan dalam pendidikan matematika. Ini
tidak hanya berlaku untuk pengembangan kurikulum dan metodologi pengajaran
tetapi juga untuk kerja teoritis dan penelitian empiris yang terkait dengan
proses pembelajaran matematika.
Berdasarkan
postingan Pak Marsigit mengenai filsafat perkalian, belajar matematika
dinyatakan dalam kalimat sehari-hari. Hal ini berarti bahwa dalam pembelajaran
matematika dapat menggunakan kalimat sehari-hari dengan tujuan memudahkan peserta
didik belajar konsep perkalian. Sehingga harapannya peserta didik dapat
mengerti dan paham bagaimana konsep perkalian, bukan hanya berfokus pada hasil.
Perkalian
merupakan konsep penjumlahan berulang, sehingga kita harus membedakan antara 1
x 3 dengan 3 x 1, meskipun hasil yang diperoleh akan sama. Karena makna Bahasa
yang bersifat kontekstual. Contohnya jika diterapkan dalam kehidupan
sehari-hari, ketika kita sakit dan dokter meminta untuk meminum obat dengan
dosis 1 x 3 artinya kita harus meminum obat 1 kali dengan 3 tablet sekaligus.
Sedangkan dosis 3 x 1 artinya kita meminum obat 3 kali sehari yaitu 1 tablet
diminum pagi, 1 tablet diminum siang, dan 1 tablet diminum malam. Jika hal
tersebut tidak dipahami dengan baik maka dapat mengakibatkan overdosis atau
tidak memiliki dampak terhadap penyembuhan penyakit.
3.
Identifikasi
Persoalan Filosofis Pembelajaran Matematika di Sekolah
Saintisme
memandang sains sebagai satu-satunya sumber pengetahuan yang benar, membuat
peserta didik menjadi kurang aktif karena guru menjadi satu-satunya sumber
belajar. Sehingga perlu menggabungkan aliran saintisme dan humanisme dalam
pembelajaran agar tercipta pembelajaran yang mengedepankan kedudukan manusia
sebagai kriteria dalam segala hal tanpa mengesampingkan sains. Beberapa ciri
umum dari pembelajaran matematika humanistik, seperti disebutkan oleh Haglun (dalam
Hendriana, 2014) yaitu:
1. Peserta
didik sebagai penemu (inquirer)
2. Memberi
kesempatan peserta didik untuk memahami masalah dan pemecahannya yang lebih
mendalam;
3. Belajar
berbagai macam cara untuk menyelesaikan masalah
4. Menunjukkan
latar belakang sejarah bahwa matematika sebagai suatu penemuan atau usaha keras
(endeavor) dari seorang manusia;
5. Menggunakan
masalah-masalah yang menarik dan pertanyaan terbuka (open-ended);
6. Menggunakan
berbagai teknik penilaian tidak hanya menilai peserta didik berdasar pada
kemampuan mengingat prosedur-prosedur saja;
7. Mengembangkan
suatu pemahaman dan apresiasi terhadap ide-ide besar matematika yang membentuk
sejarah dan budaya;
8. Membantu
peserta didik melihat matematika sebagai studi terhadap pola-pola, termasuk
aspek keindahan dan kreativitas;
9. Membantu
peserta didik mengembangkan sikap-sikap percaya diri, mandiri, dan penasaran (curiosity);
10. Mengajarkan
materi-materi yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari, seperti dalam
sains, bisnis, ekonomi, atau teknik.
Beberapa
ciri tersebut sudah tercermin pada implementasi kurikulum 2013 yang
mengutamakan peserta didik sebagai pusat pembelajaran. Warisan saintisme yang
sudah banyak berkembang di masyarakat dan mendarah daging diantaranya orang tua
menganggap nilai bagus dalam matematika identik dengan kesuksesan, dan peserta
didik merasa bangga ketika mereka mempunyai 'bakat alami' dalam matematika
karena matematika sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Jika seseorang
bertanya tentang apa itu matematika dan mengapa itu sangat penting, tanggapan
yang paling umum akan mengarah pada penggunaan aritmatika dalam transaksi
sehari-hari. Banyak juga mungkin akan menanggapi secara lebih umum bahwa
matematika 'mempertajam pikiran’.
'Penemuan'
besar dalam sejarah matematika mungkin lebih baik dipahami dalam istilah
historis sebagai kristalisasi dari arus pemikiran dan problematika yang lebih
luas dalam masyarakat. Penggunaan teknologi dan alternatif pendekatan
pembelajaran lainnya di kelas matematika bertujuan untuk meningkatkan motivasi
belajar. Bruner (1965) memperingatkan dampak jangka panjang, bahwa
langkah-langkah pembelajaran saintisme ini dapat menyebabkan peserta didik
pasif, hanya menonton, sehingga peserta didik sangat bergantung pada guru.
Peserta
didik kurang berminat dalam belajar dikarenakan: 1) Cara belajar yang mereka
harus hadapi setiap hari di sekolah kurang menarik, 2) Peserta didik belum
menyadari pentingnya belajar untuk masa depan mereka, 3) Peserta didik kurang
termotivasi untuk berlomba-lomba mencapai prestasi. Proses belajar mengajar
adalah proses dimana peserta didik sebagai objek pendidikan membangun
pengetahuan dan ilmu pengetahuan mereka. Membangun pengetahuan dapat dimulai
dari yang ada dan yang mungkin ada.
Seorang
guru dituntut untuk mempunyai empat kompetensi, yakni kompetensi pedagogic,
kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi professional. Guru
yang professional adalah guru yang memiliki kompetensi yang dapat menunjang
tugasnya. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Yanto et
al. (2017) yang menganalisis kompetensi pedagogis dan profesional guru
matematika SMA Negeri di Kabupaten Kuantan Singingi, Riau, bahwa pelajaran,
fasilitas, pelatihan, dan pengalaman mengajar mempengaruhi kompetensi pedagogik
dan profesionalisme guru. Kompetensi profesional guru memiliki pengaruh yang
lebih besar pada motivasi belajar siswa daripada pedagogic.
Ada
dua sifat yang perlu dipahami oleh pendidik, sifat-sifat itu ialah bersifat
tetap dan bersifat berubah. Yang tetap itu ada didalam pikiran manusia dan yang
berubah itu ada diluar pikiran manusia. Peserta didik memiliki harapan bahwa
pelajaran matematika itu mudah untuk dipelajari, matematika bukan momok yang
menakutkan bagi peserta didik. Jadi guru harus mendesain kelas matematika supaya
peserta didik mampu memahami matematika yang abstrak dan bersifat koheren.
Metode
pembelajaran yang dapat digunakan guru berdasarkan kurikulum 2013 antara lain Problem Based Learning (PBL), Project Based Learning (PjBL), Discovery Learning (DL), dan masih
banyak lainnya. Tujuan diterapkannya kurikulum 2013 adalah mengubah
pembelajaran yang semula berpusat pada guru menjadi berpusat pada peserta didik.
Harapannya interaksi dua arah antara guru dan peserta didik dapat terjalin
dengan baik. Keterampilan guru dalam
memilih dan menggunakan metode pengajaran yang tepat memengaruhi kekuatan dan
kelemahan metode tersebut. Pilihan metode atau model pembelajaran harus sesuai
dengan materi yang akan diajarkan, kepadatan materi yang harus disampaikan, alokasi
waktu yang tersedia serta infrastruktur pendukung yang tersedia.
DAFTAR PUSTAKA
Bruner, J. (1965) The Process of
Education, Cambridge, MA, Harvard University Press
Freudenthal, H. (1973) Mathematics
as an Educational Task, Dordrecht, Holland, D. Reidel Publishing Co.
Hendriana.H. (2014). Membangun Kepercayaan Diri Siswa melalui Pembelajaran
Matematika Humanis. Jurnal Pengajaran
MIPA,19(1),52-60.
Marsigit. 2017. Filsafat Perkalian.
https://powermathematics.blogspot.com/2017/09/filsafat-perkalian.html (Diakses pada 14
November 2019)
Yanto,
N., Fatchiya, A. Anwas, O. M. (2017). Analisis Kompetensi Pedagogik dan
Profesional Guru Matematika SMA Negeri Di Kabupaten Kuantan Singingi, Riau. Majalah Ilmiah Universitas Almuslim, 9,
40-46.
Komentar
Posting Komentar